Lebih Baik Agroforestri atau Mini-Farming Serangga?

Memanen Serangga dari Alam

Selain dikumpulkan dari alam, serangga juga banyak dikembangkan dalam industri peternakan (Oonincx dan de Boer 2012). Saat ini, banyak negara yang sedang meneliti potensi pengembangan minifarming dari bisnis serangga sebagai kebutuhan dalam menemukan sumber protein alternatif. Sumber protein alternatif ini diperlukan karena permintaan akan produk daging meningkat, sementara luas lahan yang tersedia untuk produksi ternak terbatas (van Huis 2015). Pertanyaannya kemudian adalah apakah produksi serangga sebagai sumber protein alternatif lebih ramah lingkungan daripada produksi hewan konvensional? (Abbasi dan Abbasi 2016; Gahukar 2016)

Gambar 1 Isu lingkungan yang menjadi perhatian bila serangga dipanen dari alam atau diproduksi sebagai peternakan mini (van Huis dan Oonincx 2017)

Sebagian besar dari sekitar 2.100 spesies serangga yang dikonsumsi oleh manusia di daerah tropis (Jongema 2012) dipanen dari alam (hutan, saluran air, atau ladang pertanian). Memanfaatkan sumber pangan langsung dari alam seharusnya juga turut memperhatikan life-cycle dan ketersediaan populasi serangga dengan ekologinya. Sebagai contoh, penggunaan pestisida dalam mengendalikan ulat hutan harus lebih diperhatikan, karena mereka adalah sumber protein, mineral dan vitamin.

Memanen Serangga dari Agroforestri

Biasanya petani dalam mengendalikan populasi hama serangga menggunakan bahan kimia. Namun, jika hama serangga tersebut padahal bisa dimakan, mengapa tidak mengendalikannya dengan memanen untuk pangan dan pakan? Keuntungannya ada tiga: (1) nutrisi, berkontribusi dalam ketahanan pangan; (2) ekonomis karena tidak perlu membeli pestisida; dan (3) lingkungan, karena tidak ada kontaminasi pestisida, sehingga pencegahan hama atau wabah sekunder dapat dicegah. Sebagai contoh belalang Meksiko, Sphenarium purpurascens Charpentier (Orthoptera: Pyrgomorphidae), spesies ini adalah hama jagung, kacang, labu, dan alfalfa di Meksiko tengah dan selatan. Namun, serangga ini juga telah dieksploitasi untuk konsumsi manusia sejak zaman prasejarah. Saat ini, 200 ton dikonsumsi per tahun (Cerritos dan Cano-Santana 2008). Jika spesies ini dipanen dari lebih dari 1 juta ha agroekosistem ini di Meksiko, potensi hasil tahunan adalah 350.000 ton. Oleh karena itu, Cerritos Flores et al. (2015) mengusulkan mengubah praktik dari kontrol kimia ke mekanis.

Di Thailand, spesies belalang bombay, Nomadacris succincta (Johannson) (Orthoptera: Acrididae) adalah hama utama tanaman jagung dan sorgum antara tahun 1960 dan 1970 (Chen et al. 1998). Penyemprotan pestisida yang dilakukan saat itu, tidak berhasil mengendalikan hama, sehingga pada tahun 1978-1981 dilakukan kampanye untuk menghidupkan kembali praktik lama di masa lalu, yaitu, menangkap dan memakan belalang (Hanboonsong 2010). Petani mulai mengumpulkannya untuk konsumsi pribadi dan sebagai komoditas pasar; karenanya, tidak lagi dianggap sebagai hama. Sebaliknya, kini justru masyarakat Thailand mengonsumsi banyak sekali belalang bombay, hingga mengiimpor 170 ton/tahun dari Kamboja (Hanboonsong et al. 2013).

Namun meski demikian, memanen serangga dari alam memiliki bahaya yaitu eksploitasi berlebihan yang dapat mengerosi genetik membahayakan panen di masa depan. Di Australia, semut madu dan belatung kayu (baik Lepidoptera dan Coleoptera) adalah spesies serangga penting yang dapat dimakan untuk penduduk asli (Yen 2005; Yen et al. 2018). Namun, peningkatan eksploitasi oleh penduduk asli, untuk restoran dan untuk ekowisata, mengancam ketersediaan mereka. Ramos-Elorduy (2006) mencatat 18 spesies serangga dari negara bagian Hidalgo, Meksiko, terancam oleh polusi, perubahan habitat, dan eksploitasi berlebihani ini disebut “defaunasi antroposen” (van Vliet et al. 2016), atau manusia penyebab penurunan/kepunahan populasi suatu spesies. Serangga akuatik yang populasinya terancam karena polusi; dan spesies ulat bulu di Afrika, yang menghilang karena eksploitasi berlebihan dan pembalakan; spesies serangga yang dapat dimakan dianggap sebagai hama di agroekosistem. Hal ini tentu menjadi dilematis dalam perkembangan serangga di masa depan menjadi pakan alternatif dalam teknologi minifarming-livestock ataupun harvesting from nature, karena bisa jadi hali ini menyebabkan ledakan populasi suatu serangga menjadi tidak terkendali atau justru menyebabkan erosi bahkan kepunahan sumber genetik suatu serangga.

Melestarikan dan Meningkatkan Ketersediaan Populasi Serangga

Konservasi dan peningkatan edible serangga dari alam juga harus mempertimbangkan hubungan yang kompleks dan dinamis antara ekosistem, kolektor, konsumen, pedagang, produsen kayu, dan kondisi lingkungan yang dapat mempengaruhi keadaaan sosial masyarakat (van Vliet et al. 2016). Fokus dalam pengembangan serangga tidak harus semata-mata pada hasil maksimum berdasarkan prinsip-prinsip ekologis, namun juga dapat dilihat pada interaksi sosial dengan kearifan lokal yang mengarah pada pengelolaan dan tata kelola sumber daya lestari. Dalam pengembangan praktik agroforestri tentunya memerlukan lembaga untuk mengawasi penguasaan, akses, dan peraturan terkait terkait pengelolaan konflik antara pemangku kepentingan (Vantomme et al. 2004; Lindsey et al. 2013). (Vinceti et al. 2013) mempertimbangkan tantangan beberapa dekade mendatang pada agroforesti pengembangan serangga yang kuat berakar pada budaya pedesaan: (1) memelihara spesies satwa liar dalam jaringan kawasan lindung dan (2) memenuhi permintaan pedesaan akan protein melalui pemanenan berkelanjutan.

Pada dasarnya, pemeliharaan spesies serangga berbasis hutan dan tanaman inang memang menghasilkan hasil yang baik dengan sedikit usaha, namun agar dapat memenuhi permintaan pasar jumlah yang diperlukan akan sangat besar dan butuh keberlanjutan. Sehingga seharusnya pengembangan serangga perlu diternakkan. Kemudian, dalam beternak serangga hendaknya memperhatikan sistem konsep sustainability dan zero waste, harapannya memang pertama untuk keberlanjutan usaha peternakan dan potensi ekonomi yang lebih tinggi. Namun, kemudian yang juga tidak kalah penting adalah agar populasi ternak serangga tetap berada di dalam sistem produksi peternakan, tidak dilepaskan sembarang ke alam, karena pada dasarnya beberapa edible serangga adalah hama pertanian.

Referensi

Abbasi T, Abbasi SA. 2016. Reducing the global environmental impact of livestock production: The minilivestock option. J. Clean. Prod.
Ayemele AG, Muafor FJ, Levang P. 2017. Indigenous management of palm weevil grubs (Rhynchophorus phoenicis) for rural livelihoods in Cameroon. J. Insects as Food Feed.
Cerritos Flores R, Ponce-Reyes R, Rojas-García F. 2015. Exploiting a pest insect species Sphenarium purpurascens for human consumption: Ecological, social, and economic repercussions. J. Insects as Food Feed.
Cerritos R, Cano-Santana Z. 2008. Harvesting grasshoppers Sphenarium purpurascens in Mexico for human consumption: A comparison with insecticidal control for managing pest outbreaks. Crop Prot.
Chen P, Wongsiri S, Jamyanya T, Rinderer T, Vongsamanode S, Matsuka M, Sylvester A, Oldroyd B. 1998. Honey bees and other edible insects used as human food in Thailand. Am. Entomol.
Gahukar RT. 2016. Edible Insects Farming: Efficiency and Impact on Family Livelihood, Food Security, and Environment Compared With Livestock and Crops. Di dalam: Insects as Sustainable Food Ingredients.
Hanboonsong Y. 2010. Edible insects and associated food habits in Thailand. For. insects as food humans bite back.
Hanboonsong Y, Jamjanya T, Durst PB. 2013. Six-legged livestock : edible insect farming , collecting and marketing in Thailand.
van Huis A. 2015. Edible insects contributing to food security? Agric. Food Secur.
van Huis A, Oonincx DGAB. 2017. The environmental sustainability of insects as food and feed. A review. Agron. Sustain. Dev.
Jongema Y. 2012. List of edible insects of the world (April 1, 2017). WUR.
Lindsey PA, Balme G, Becker M, Begg C, Bento C, Bocchino C, Dickman A, Diggle RW, Eves H, Henschel P, et al. 2013. The bushmeat trade in African savannas: Impacts, drivers, and possible solutions. Biol. Conserv.
Oonincx DGAB, de Boer IJM. 2012. Environmental Impact of the Production of Mealworms as a Protein Source for Humans – A Life Cycle Assessment. PLoS One.
Ramos-Elorduy J. 2006. Threatened edible insects in Hidalgo, Mexico and some measures to preserve them. J. Ethnobiol. Ethnomed.
Vantomme P, Göhler D, N’Deckere-Ziangba F. 2004. Contribution of forest insects to food security and forest conservation: The example of caterpillars in Central Africa. ODI Wildl. Policy Brief.
Vinceti B, Termote C, Ickowitz A, Powell B, Kehlenbeck K, Hunter D. 2013. The contribution of forests and trees to sustainable diets. Sustain.
van Vliet N, Cornelis D, Beck H, Lindsey P, Nasi R, LeBel S, Moreno J, Fragoso J, Jori F. 2016. Meat from the Wild: Extractive Uses of Wildlife and Alternatives for Sustainability.
Yen A, Bilney C, Shackleton M, Lawler S. 2018. Current issues involved with the identification and nutritional value of wood grubs consumed by Australian Aborigines. Insect Sci.
Yen AL. 2005. Insect and other invertebrate foods of the Australian Aborigines. Ecol. Implic. minilivestock potential insects, rodents, frogs snails.

Lebih Baik Agroforestri atau Mini-Farming Serangga?

Memanen Serangga dari Alam

Selain dikumpulkan dari alam, serangga juga banyak dikembangkan dalam industri peternakan (Oonincx dan de Boer 2012). Saat ini, banyak negara yang sedang meneliti potensi pengembangan minifarming dari bisnis serangga sebagai kebutuhan dalam menemukan sumber protein alternatif. Sumber protein alternatif ini diperlukan karena permintaan akan produk daging meningkat, sementara luas lahan yang tersedia untuk produksi ternak terbatas (van Huis 2015). Pertanyaannya kemudian adalah apakah produksi serangga sebagai sumber protein alternatif lebih ramah lingkungan daripada produksi hewan konvensional? (Abbasi dan Abbasi 2016; Gahukar 2016)

Sebagian besar dari sekitar 2.100 spesies serangga yang dikonsumsi oleh manusia di daerah tropis (Jongema 2012) dipanen dari alam (hutan, saluran air, atau ladang pertanian). Memanfaatkan sumber pangan langsung dari alam seharusnya juga turut memperhatikan life-cycle dan ketersediaan populasi serangga dengan ekologinya. Sebagai contoh, penggunaan pestisida dalam mengendalikan ulat hutan harus lebih diperhatikan, karena mereka adalah sumber protein, mineral dan vitamin. 

Memanen Serangga dari Agroforestri

Biasanya petani dalam mengendalikan populasi hama serangga menggunakan bahan kimia. Namun, jika hama serangga tersebut padahal bisa dimakan, mengapa tidak mengendalikannya dengan memanen untuk pangan dan pakan? Keuntungannya ada tiga: (1) nutrisi, berkontribusi dalam ketahanan pangan; (2) ekonomis karena tidak perlu membeli pestisida; dan (3) lingkungan, karena tidak ada kontaminasi pestisida, sehingga pencegahan hama atau wabah sekunder dapat dicegah. Sebagai contoh belalang Meksiko, Sphenarium purpurascens Charpentier (Orthoptera: Pyrgomorphidae), spesies ini adalah hama jagung, kacang, labu, dan alfalfa di Meksiko tengah dan selatan. Namun, serangga ini juga telah dieksploitasi untuk konsumsi manusia sejak zaman prasejarah. Saat ini, 200 ton dikonsumsi per tahun (Cerritos dan Cano-Santana 2008). Jika spesies ini dipanen dari lebih dari 1 juta ha agroekosistem ini di Meksiko, potensi hasil tahunan adalah 350.000 ton. Oleh karena itu, Cerritos Flores et al. (2015) mengusulkan mengubah praktik dari kontrol kimia ke mekanis.

Di Thailand, spesies belalang bombay, Nomadacris succincta (Johannson) (Orthoptera: Acrididae) adalah hama utama tanaman jagung dan sorgum antara tahun 1960 dan 1970 (Chen et al. 1998). Penyemprotan pestisida yang dilakukan saat itu, tidak berhasil mengendalikan hama, sehingga pada tahun 1978-1981 dilakukan kampanye untuk menghidupkan kembali praktik lama di masa lalu, yaitu, menangkap dan memakan belalang (Hanboonsong 2010). Petani mulai mengumpulkannya untuk konsumsi pribadi dan sebagai komoditas pasar; karenanya, tidak lagi dianggap sebagai hama. Sebaliknya, kini justru masyarakat Thailand mengonsumsi banyak sekali belalang bombay, hingga mengiimpor 170 ton/tahun dari Kamboja (Hanboonsong et al. 2013).

Namun meski demikian, memanen serangga dari alam memiliki bahaya yaitu eksploitasi berlebihan yang dapat mengerosi genetik membahayakan panen di masa depan. Di Australia, semut madu dan belatung kayu (baik Lepidoptera dan Coleoptera) adalah spesies serangga penting yang dapat dimakan untuk penduduk asli (Yen 2005; Yen et al. 2018). Namun, peningkatan eksploitasi oleh penduduk asli, untuk restoran dan untuk ekowisata, mengancam ketersediaan mereka. Ramos-Elorduy (2006) mencatat 18 spesies serangga dari negara bagian Hidalgo, Meksiko, terancam oleh polusi, perubahan habitat, dan eksploitasi berlebihani ini disebut “defaunasi antroposen” (van Vliet et al. 2016), atau manusia penyebab penurunan/kepunahan populasi suatu spesies. Serangga akuatik yang populasinya terancam karena polusi; dan spesies ulat bulu di Afrika, yang menghilang karena eksploitasi berlebihan dan pembalakan; spesies serangga yang dapat dimakan dianggap sebagai hama di agroekosistem. Hal ini tentu menjadi dilematis dalam perkembangan serangga di masa depan menjadi pakan alternatif dalam teknologi minifarming-livestock ataupun harvesting from nature, karena bisa jadi hali ini menyebabkan ledakan populasi suatu serangga menjadi tidak terkendali atau justru menyebabkan erosi bahkan kepunahan sumber genetik suatu serangga.

Melestarikan dan Meningkatkan Ketersediaan Populasi Serangga

Konservasi dan peningkatan edible serangga dari alam juga harus mempertimbangkan hubungan yang kompleks dan dinamis antara ekosistem, kolektor, konsumen, pedagang, produsen kayu, dan kondisi lingkungan yang dapat mempengaruhi keadaaan sosial masyarakat (van Vliet et al. 2016). Fokus dalam pengembangan serangga tidak harus semata-mata pada hasil maksimum berdasarkan prinsip-prinsip ekologis, namun juga dapat dilihat pada interaksi sosial dengan kearifan lokal yang mengarah pada pengelolaan dan tata kelola sumber daya lestari. Dalam pengembangan praktik agroforestri tentunya memerlukan lembaga untuk mengawasi penguasaan, akses, dan peraturan terkait terkait pengelolaan konflik antara pemangku kepentingan (Vantomme et al. 2004; Lindsey et al. 2013). (Vinceti et al. 2013) mempertimbangkan tantangan beberapa dekade mendatang pada agroforesti pengembangan serangga yang kuat berakar pada budaya pedesaan:

  • Memelihara spesies satwa liar dalam jaringan kawasan lindung dan
  • Memenuhi permintaan pedesaan akan protein melalui pemanenan berkelanjutan.

Pada dasarnya, pemeliharaan spesies serangga berbasis hutan dan tanaman inang memang menghasilkan hasil yang baik dengan sedikit usaha, namun agar dapat memenuhi permintaan pasar jumlah yang diperlukan akan sangat besar dan butuh keberlanjutan. Sehingga seharusnya pengembangan serangga perlu diternakkan. Kemudian, dalam beternak serangga hendaknya memperhatikan sistem konsep sustainability dan zero waste, harapannya memang pertama untuk keberlanjutan usaha peternakan dan potensi ekonomi yang lebih tinggi. Namun, kemudian yang juga tidak kalah penting adalah agar populasi ternak serangga tetap berada di dalam sistem produksi peternakan, tidak dilepaskan sembarang ke alam, karena pada dasarnya beberapa edible serangga adalah hama pertanian.

Referensi

Abbasi T, Abbasi SA. 2016. Reducing the global environmental impact of livestock production: The minilivestock option. J. Clean. Prod.

Ayemele AG, Muafor FJ, Levang P. 2017. Indigenous management of palm weevil grubs (Rhynchophorus phoenicis) for rural livelihoods in Cameroon. J. Insects as Food Feed.

Cerritos Flores R, Ponce-Reyes R, Rojas-García F. 2015. Exploiting a pest insect species Sphenarium purpurascens for human consumption: Ecological, social, and economic repercussions. J. Insects as Food Feed.

Cerritos R, Cano-Santana Z. 2008. Harvesting grasshoppers Sphenarium purpurascens in Mexico for human consumption: A comparison with insecticidal control for managing pest outbreaks. Crop Prot.

Chen P, Wongsiri S, Jamyanya T, Rinderer T, Vongsamanode S, Matsuka M, Sylvester A, Oldroyd B. 1998. Honey bees and other edible insects used as human food in Thailand. Am. Entomol.

Gahukar RT. 2016. Edible Insects Farming: Efficiency and Impact on Family Livelihood, Food Security, and Environment Compared With Livestock and Crops. Di dalam: Insects as Sustainable Food Ingredients.

Hanboonsong Y. 2010. Edible insects and associated food habits in Thailand. For. insects as food humans bite back.

Hanboonsong Y, Jamjanya T, Durst PB. 2013. Six-legged livestock : edible insect farming , collecting and marketing in Thailand.

van Huis A. 2015. Edible insects contributing to food security? Agric. Food Secur.

van Huis A, Oonincx DGAB. 2017. The environmental sustainability of insects as food and feed. A review. Agron. Sustain. Dev.

Jongema Y. 2012. List of edible insects of the world (April 1, 2017). WUR.

Lindsey PA, Balme G, Becker M, Begg C, Bento C, Bocchino C, Dickman A, Diggle RW, Eves H, Henschel P, et al. 2013. The bushmeat trade in African savannas: Impacts, drivers, and possible solutions. Biol. Conserv.

Oonincx DGAB, de Boer IJM. 2012. Environmental Impact of the Production of Mealworms as a Protein Source for Humans – A Life Cycle Assessment. PLoS One.

Ramos-Elorduy J. 2006. Threatened edible insects in Hidalgo, Mexico and some measures to preserve them. J. Ethnobiol. Ethnomed.

Vantomme P, Göhler D, N’Deckere-Ziangba F. 2004. Contribution of forest insects to food security and forest conservation: The example of caterpillars in Central Africa. ODI Wildl. Policy Brief.

Vinceti B, Termote C, Ickowitz A, Powell B, Kehlenbeck K, Hunter D. 2013. The contribution of forests and trees to sustainable diets. Sustain.

van Vliet N, Cornelis D, Beck H, Lindsey P, Nasi R, LeBel S, Moreno J, Fragoso J, Jori F. 2016. Meat from the Wild: Extractive Uses of Wildlife and Alternatives for Sustainability.

Yen A, Bilney C, Shackleton M, Lawler S. 2018. Current issues involved with the identification and nutritional value of wood grubs consumed by Australian Aborigines. Insect Sci.

Yen AL. 2005. Insect and other invertebrate foods of the Australian Aborigines. Ecol. Implic. minilivestock potential insects, rodents, frogs snails.

Revitalisasi Manajemen Transportasi Day Old Chick

Budidaya ayam telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Produksinya terus meningkat bila jika dibandingkan dengan ternak sapi atau domba. Bahkan indonesia sudah terbilang swasembada ayam dan mampu untukmengeskpor ayam ke beberapa negara tetangga. Sektor peternakan ayam broiler menempati ruang-ruang bisnis secara terintegrasi. Mulai dari pakan, penetasan, breeding, hingga komersial penggemukan.

Semula tidak banyak masalah saat ayam diternakan dalam kandang closehouse yang menempati suatu wilayah. Tetapi semakin meningkatnya jumlah peternak dan jutaan broiler yang diternakan di berbagai wilayah, ancaman pun datang. Yang paling terdampak adalah masalah penyebaran bibit broiler (DOC) ke berbagai wilayah pelosok yang bisa mengakibatkan loss weight atau mortalitas DOC bila salah metode. Demikian diungkapkan Trainer AERES TCI dalam seminar Prospek Bisnis dan Manajemn RPHU yang Berdaya Saing (18/1), Bertus Brongkhorst.

Menurut Bertus, rantai pasok DOC menjadi permasalahan yang penting untuk diperhatikan. Mengingat besarnya demand broiler yang sedemikian tingginya juga menuntut adanya peningkatan kualitas dan keamanan pangan, kesejahteraan hewan, hingga isu lingkungan. Bertus juga mengingatkan tujuan utama dalam beternak broiler ini adalah untuk meningkatkan efisiensi produksi, meningkatkan kualitas produk, dan juga meningkatkan profit bisnis.

Tetapi, diakui Bertus, saat ini hatchery di Indonesia sudah tersebar di banyak daerah, sehingga transport DOC menjadi lebih dapat terkendali.

Pertumbuhan broiler

Dikatakan Bertus, normalnya DOC masih memiliki cadangan energi dari yolk yang mampu bertahan hingga umur tiga hari. Namun, DOC yang ditranportasi dalam periode tersebut bisa mengalami dehidrasi yang dapat mempengaruhi digesty track sehingga bisa menyebabkan loss weight atau mortality. Itu sebabnya, kendaraan pengantar hendaknya menyediakan air minum, pengatur suhu, juga pengatur kelembaban di dalam box ayam. “Kalau waktu tempuh kendaraan melebihi 24 jam, DOC harus diberi asupan makanan plus minuman dalam bentuk jelly. Jangan lupa juga untuk mengatur kepadatan keranjang, 1 DOC memerlukan space 21-25 cm2”, ujar Bertus.

Pengiriman Ternak

Standar baku yang sering diabaikan dalam tranportasi ternak padahal penting, menurut Bertus adalah kebershihan ternak dan detail informasi pengiriman. DOC hendaknya bersih agar menjaga kesehatan dan tidak menimbulkan penyimpangan hambatan saat ditransportasikan, sebaiknya juga pengiriman DOC dilengkapi dengan delivery order yang berisi keterangan jumlah, bobot, dan jenis kelamin DOC 24 jam sebelum pengiriman.

Teknik penangkapan ayam dan pengkondisiannya harus diperhitungkan dalam mempersiapkan pengiriman. Menurut Bertus, idealnya penangkapan ayam dilakukan dengan mesin Automatic Catches untuk mengurangi peran manusia sehingga menjaga dari penularan penyakit dan tingkat stress ayam, atau bila tidak ada maka ayam hendaknya diperlakukan secara animal welfare. Keranjang DOC hendaknya bersih dan diletakan tidak berjauhan dari tempat pengambilan DOC, serta pengelompokan DOC berdasarkan kelompok awal agar terhindar dari kontaminasi penyakit silang. Bertus menambahkan bahan keranjang ayam lebih baik bila menggunakan bambu dibanding plastik, karena sifat bambu sebagai insulator penahan panas lebih baik dibanding plastik, dan bambu juga dapat dibantuk sesuai keinginan.

Kondisi mikroklimat box mobil sebelum keberangkatan juga perlu diperhatikan, bila ayam panting berarti suhu box terlalu panas, bila ayam berkerumun maka suhu box terlalu dingin, idealnya box mobil bersuhu 25-30 0C, dengan kelembaban 70%, dan kadar CO2 maksimal 2.500 ppm.

Unloading

Ternak yang baru sampai tentunya memngalami jetlag yang dimungkinkan kepanasan dan kurang minum di dalam box menyebabkan dehidrasi dan/atau berkurangnya nafsu makan. Bertus menyarankan sebaiknya lokasi unloading diberi kanopi yang dilengkapi van besar di lokasi pengiriman guna menghindari sinar matahari dan menurunkan suhu box. Unloading DOC dilakukan secara hati-hati dan diberi minum air gula agar mengembalikan stamina

Pengembangan Antivirus Potensial dengan Target Melawan Sisi Aktif Papain-Like Protease (PLpro) pada SARS-CoV-2

Virus Corona Penyebab Penyakit Mematikan Dunia

Sindrom coronavirus pernafasan akut yang parah / severe acute respiratory syndrome coronavirus (SARS-CoV) muncul pada tahun 2002 dari Provinsi Guangdong di Cina (Drosten et al. 2003; Rota et al. 2003). Penyakit ini dengan cepat menyebar ke seluruh dunia, menginfeksi lebih dari 8.000 orang dan menyebabkan lebih dari 800 kematian. SARS-CoV menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan di seluruh dunia, karena perjalanan udara dilarang dan terbatas pada banyak daerah yang terkena dampak. Maskipun epidemi dari SARS-CoV sudah selesai, namun beberapa penelitian sebelum tahun 2014 telah memperingatkan bahwa virus SARS-CoV masih berpotensi menular lagi ke manusia karena banyak kelelawar yang membawa koronavirus dan ditemukan di seluruh dunia, termasuk Amerika Utara (Colorado (Dominguez et al. 2007), Maryland (Donaldson et al. 2010), Kanada (Misra et al. 2009)), Eropa (Jerman (Gloza-Rausch et al. 2008)) dan Afrika (Afrika Selatan (Ithete et al. 2013)) yang memiliki potensi untuk menjadi patogen manusia.

Pada bulan September 2012, coronavirus yang sangat patogen bagi manusia (CoV) muncul di Jeddah dan Arab Saudi dan dengan cepat menyebar ke beberapa negara Eropa, yakni Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV) (Anderson dan Baric 2012; Chan et al. 2012; Zaki et al. 2012). Virus ini menyebabkan gejala yang mirip dengan SARS-CoV, namun dengan komponen gejala tambahan dengan gagal ginjal akut (Eckerle et al. 2013). Hingga 15 Mei 2014, telah menginfeksi setidaknya 572 orang dengan tingkat kematian sekitar 30% secara global

Wabah penyakit coronavirus baru-baru ini 2019 (COVID-19) yang disebabkan oleh SARS-CoV-2 di Cina telah menjadi perhatian utama bagi komunitas global karena jumlah orang yang terinfeksi virus terus meningkat dan penyebaran geografis yang signifikan. Hingga Maret 2020, WHO melaporkan telah terjadi 167.414 kasus infeksi COVID-19 dengan 6507 di antaranya mengalami kematian.

Beberapa upaya sedang dilakukan untuk menemukan terapi baru terhadap COVID-19. Komisi Kesehatan Nasional China telah merekomendasikan untuk menggunakan protease inhibitor HIV-1, lopinavir, dan ritonavir sebagai ad hoc pengobatan terhadap infeksi sementara. Wang telah menguji tujuh obat yang disetujui secara in vitro terhadap isolat klinis virus (Wang et al. 2020). Penelitian yang kuat pada aspek-aspek lain dari SARS-COV-2, termasuk epidemiologi dan sekuensing genom telah memberikan wawasan yang berguna ke dalam pengetahuan mengenai virus ini (Chan et al. 2020; Lu et al. 2020).

Struktur Penting dan Potensi Penghambatan Virus Corona

Seperti jenis CoV lain, SARS-CoV, MERS-CoV, dan SARS-CoV-2 saling terkait dan memiliki poliprotein non struktural (pp1a dan pp1ab) yang mirip, karena dibelah dan digandakan oleh dua poliprotein besar protease sistein, yaitu, papain-like protease (PLpro) dan 3-chymotrypsinlike-like protease (3CLpro). Aktivitas proses poliprotein virus sangat penting untuk pematangan dan infektivitas virus (Chen, Liu, dan Guo 2020). Karena peran penting yang dimainkan kedua protease ini dalam siklus hidup virus, sehingga PLpro dan 3CLpro adalah target penting untuk desain obat antivirus.

PLpro dari coronaviruses (CoVs) melakukan pematangan proteolitik protein non-struktural yang berperan dalam replikasi virus dan melakukan deubiquitinasi faktor sel inang untuk menghentikan inhibitor antivirus. PLpro bekerja bersamaan dengan nsp4 dalam perakitan vesikel membran ganda sitoplasma yang diinduksi oleh virus yang diperlukan untuk replikasi virus. Aktivitas PLpro ini sangat berlawanan dengan induksi imun natural interferon tipe I dengan menghalangi fosforilasi, dimerisasi dan translokasi nuklir host IRF3. Sehingga, PLpro juga mencegah pensinyalan NF-kappa-B. Karena PLpro memiliki aktivitas deubiquitinase dan deISGylating, kami memilih SARS-CoV-2 PLpro untuk menseleksi obat-obatan yang disetujui FDA untuk menemukan terapi yang potensial. Alignmentasi beberapa urutan domain katalitik PLpro dari genom virus SARS-CoV-2 dengan virus corona lainnya menunjukkan kesamaan mereka seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1.

a

Gambar 1 Penjajaran urutan ganda dari domain katalitik protease seperti papain (PLpro) dari berbagai coronavirus (Arya et al. 2020).

Pengembangan Obat-obatan Potensial Antivirus SARS-CoV-2

Model homologi berada dalam konformasi flap tertutup dengan skor GMQE dan QMean (Benkert, Tosatto, dan Schomburg 2008) masing-masing sebesar 0,95 dan -0,22. Model homologi dapat mengakomodasi ligan dari template dengan baik. Oleh karena itu, ligan templat (penghambat SARS-CoV PLpro) digunakan untuk menentukan situs pengikatan untuk docking. Situs pengikatan berisi kantong S3 / S4 yang lebih luas, daripada kantong S1 / S2 restriktif yang dekat dengan residu katalitik. S3 / S4 berisi residu Asp164, Val165, Arg166, Glu167, Met 208, Ala246, Pro247, Pro248, Tyr 264, Gly266, Asn267, Tyr 268, Gln269, Cys217, Gly271, Tyr273, Thr301 dan Asp302. Semua set diseleksi menurut afinitas pengikatan. Tiga puluh empat obat memiliki afinitas pengikatan lebih baik dari 100 μM tanpa regangan torsional, bentrokan intra-dan antar-molekul. Senyawa ini kemudian diperiksa secara visual. Dari tiga puluh empat obat, nilai efisiensi ligan (LE) adalah +2 untuk sepuluh obat, +1 untuk empat belas obat, dan 0 untuk tujuh obat. Obat yang memiliki nilai LE negatif disisihkan.

Di antara obat yang dipilih, terdapat beberapa anestesi, agen antineoplastik, penekan nafsu makan, salep kulit, agen pencitraan diagnostik dan obat tidak cocok lainnya, dan karenanya dikeluarkan dari pertimbangan. Akhirnya, enam belas obat dipilih dengan afinitas pengikatan yang diperkirakan dalam kisaran 8 nM hingga 100 μM, tidak memiliki regangan torsi, benturan intra-dan antar-molekul. Inhibitor yang menjanjikan dari SARS-CoV-2 PLpro ini tercantum pada Tabel 1

Table 1 Enam belas obat-obatan yang disetujui FDA menunjukkan afinitas terbaik bagi SARS-COV-2 PLpro (Arya et al. 2020)

Nama Mengikat Afinitas LE Aplikasi Saat Ini
1. Biltricide 8 nM-8 µM + Anthelmintik
2. Cinacalcet 26 nM-3 µM 0 Calcimimetic, untuk mengobati

hiperparatiroidisme

3. Procainamide 30 nM-3 µM ++ Antiaritmia
4. Terbinafine 33 nM-3 µM + Anti jamur
5. Pethidine 53 nM – 5 μM + Analgesik narkotik
6. Labetalol 113 nM-11 µM 0 Untuk mengobati hipertensi
7. Tetrahydrozoline 137 nM -14 μM ++ Obat tetes mata bebas dan semprotan hidung
8. Ticlopidine 160 nM-16 µM + Penghambat agregasi platelet.
9. Etoheptazin 163 nM-16 µM + Analgesik opioid
10.Levamisole 259 nM-26 µM ++ Antihelminthic digunakan untuk infeksi parasit, virus, dan bakteri.
11.Amitriptyline 466 nM-46 µM 0 antidepresan dengan sifat analgesik
12.Naphazoline 697 nM-69 µM + Dekongestan dalam obat tetes mata yang dijual bebas dan sediaan hidung.
13.Formoterol 716 nM-71 µM 0 Penatalaksanaan COPD dan asma.
14. Benzylpenicillin 718 nM-71 µM 0 Antibiotik spektrum sempit
15.  Chloroquine 858 nM-85 µM 0 Agen antimalaria
16. Chlorothiazide 939 nM-93 µM + Diuretik

Menariknya, analisis ini mengambil obat anti-malaria,  Chloroquine , sebagai penghambat potensial dari virus PLpro. Aktivitas anti-virus  Chloroquine  telah dilaporkan sebelumnya (Savarino et al. 2006; Yan et al. 2013). Baru-baru ini, China telah merilis beberapa uji coba obat pada pasien setelah terbukti memblokir infeksi SARS-CoV-2 pada konsentrasi mikro-molar rendah (EC 50: 1,13 μM) dalam percobaan kultur sel (Wang et al. 2020). Ditemukan bahwa  Chloroquine  bekerja melawan infeksi virus pada tahap awal, juga pada tahap pasca masuk. Kemungkinan bahwa efek  Chloroquine  selama tahap pasca masuk dapat dimanifestasikan melalui penghambatan protein virus penting, PLpro. Molekul menarik lainnya yang diambil dalam analisis ini adalah formoterol, yang melemaskan otot-otot di saluran udara untuk meningkatkan pernapasan dan digunakan sebagai bronkodilator dalam pengelolaan penyakit paru obstruktif kronik / chronic obstructive pulmonary disease (COPD) dan asma. Obat ini akan memiliki efek sinergis dalam merawat pasien jika juga menghambat aktivitas virus PLpro.

Sementara pencarian terapi pengobatan terhadap COVID-19 terus berlanjut, akan membutuhkan waktu bagi obat-obatan tersebut hingga terbukti secara klinis. Oleh karena itu, dalam mengeksplorasi potensi obat yang ada dibutuhkan pendugaan secara rasional dengan mengasumsikan signifikansi pada parameter tertentu. Studi in silico ini menunjukkan bahwa enam belas obat yang disetujui FDA tersebut (Gambar 2) berpotensi menghambat SARS-CoV-2 PLpro, kemudian semuanya harus dievaluasi dalam kultur virus untuk menilai efektivitasnya.

 Chloroquine  sebagai Obat Potensial dalam Melawan SARS-CoV-2

 Chloroquine  adalah kelas obat-obatan yang biasa dipakai untuk mengobati malaria dan penyakit amebiasis. Karena keunikannya dalam melawan virus,  Chloroquine  telah diteliti potensinya dalam pengobatan SARS-CoV yang pertama muncul di Cina 2002 silam (Blau dan Holmes 2001; Kono et al. 2008; Vincent et al. 2005).

 Chloroquine  adalah bentuk dari amin acidotropik dari tanaman kina yang disintesis di Jerman oleh Bayer pada tahun 1934 dan muncul sekitar 70 tahun yang lalu sebagai pengganti yang efektif untuk kina alami (Parhizgar 2017). Kina adalah senyawa yang ditemukan di kulit pohon Cinchona yang berasal dari Peru dan juga banyak ditemukan di Indonesia merupakan obat pilihan sebelumnya untuk melawan malaria. Selama beberapa dekade,  Chloroquine  adalah obat terdepan dalam pengobatan dan profilaksis malaria yang merupakan salah satu obat yang paling diresepkan di seluruh dunia.  Chloroquine  dan hydroxy Chloroquine  memiliki keluarga molekul yang sama. Hydroxy Chloroquine  berbeda dari  Chloroquine  karena sifatnya yang lebih rendah tingkat toksifisitasnya, sehingga lebih dapat digunakan dalam dosis tinggi untuk jangka waktu lama dengan toleransi yang sangat baik.

Secara in vitro,  Chloroquine  muncul sebagai agen bioaktif serbaguna yang dilaporkan memiliki aktivitas antivirus terhadap virus RNA yang beragam seperti virus rabies(Tsiang dan Superti 1984), virus polio (Kronenberger, Vrijsen, dan Boeyé 1991), HIV (Tsai et al. 1990), virus hepatitis A (Superti et al. 1987), virus influenza A H5N1 (Yan et al. 2013), virus Chikungunya (De Lamballerie et al. 2008), dan virus dengue (Randolph, Winkler, dan Stollar 1990).

Baru-baru ini, Pusat Pengembangan Bioteknologi Nasional China mengindikasikan bahwa  Chloroquine  adalah salah satu dari tiga obat dengan profil yang menjanjikan terhadap coronavirus SARS-CoV-2 baru yang menyebabkan COVID-19. Pemakaian ulang  Chloroquine  diselidiki di rumah sakit di Beijing, di provinsi Hunan, China tengah, dan Provinsi Guangdong di Cina Selatan. Menurut laporan pendahuluan [50,51] dari pihak berwenang Cina yang menyarankan bahwa sekitar 100 pasien yang terinfeksi yang diobati dengan  Chloroquine  mengalami penurunan demam yang lebih cepat dan peningkatan citra X-ray paru-paru dengan komputer (CT) dan membutuhkan waktu yang lebih singkat untuk pulih dibandingkan dengan kelompok kontrol dan tanpa efek samping serius yang jelas. Dewan penasehat medis China telah menyarankan inklusi  Chloroquine  dalam pedoman perawatan COVID-19. Akibatnya,  Chloroquine  mungkin adalah molekul pertama yang digunakan di Cina dan beberapa negara lain di garis depan untuk pengobatan infeksi SARS-CoV-2.

Namun, obat ini memiliki resiko efek samping retinopati makula dan kardiomiopati (Ratliff et al. 1987). Survei terhadap pasien yang terinfeksi SARS CoV-2 untuk efek samping terapi  Chloroquine  masih harus dilakukan. Namun,  Chloroquine  saat ini adalah salah satu kandidat terbaik yang tersedia untuk berdampak pada tingkat keparahan infeksi SARS-CoV-2 pada manusia. Saat ini, setidaknya sepuluh uji klinis sedang menguji  Chloroquine  sebagai terapi anti COVID-19.

Mekanisme  Chloroquine  dalam Menghambat Virus

Chloroquine  dalam peranannya sebagai antivirus memiliki beberapa mekanisme aksi berbeda sesuai dengan patogen yang diteliti, beberapa di antaranya adalah:

b

Gambar 2 Schematic representation of the possible effects of chloroquine on the severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) replication cycle. (Devaux et al. 2020)

  1. Pra infeksi

 Chloroquine  dapat menghambat langkah sebelum infeksi dari siklus virus dengan mengganggu partikel virus yang mengikat reseptor permukaan sel mereka.  Chloroquine terbukti menghambat quinone reductase 2 (Kwiek, Haystead, dan Rudolph 2004) yang terlibat dalam biosintesis asam sialat. Asam sialat adalah monosakarida asam yang merupakan komponen penting dalam pengenalan ligan. Potensi gangguan  Chloroquine  ini kemungkinan besar dapat diterapkan pada virus HCoV-O43 karena menggunakan gugus asam sialat sebagai reseptor.

  1. Tahap Awal Replikasi

 Chloroquine  juga dapat mengganggu tahap awal replikasi virus dengan mengganggu entri virus yang dimediasi oleh endosom dan tergantung-pH dari virus yang terselubung seperti virus Dengue atau virus Chikungunya (Tricou et al. 2010).  Chloroquine  dapat mengalkaliasi endosom sehingga efektif terhadap virus Chikungunya ketika ditambahkan ke sel Vero.  Mekanisme pH dalam masuknya coronavirus ke dalam sel target juga dilaporkan untuk SARS CoV-1 setelah pengikatan reseptor DC-SIGN

  1. Paska Translasi

 Chloroquine  juga dapat mengganggu modifikasi protein virus pasca-translasi. Modifikasi pasca-translasi ini, yang melibatkan protease dan glikosiltransferase, terjadi dalam retikulum endoplasma atau vesikel jaringan trans-Golgi dan mungkin memerlukan pH rendah.  Chloroquine  juga menghambat replikasi virus Dengue-2 dengan mempengaruhi pemrosesan proteolitik normal dari protein prM flavivirus menjadi protein M (Randolph et al. 1990). Akibatnya, infektivitas virus terganggu. Dalam model virus herpes simpleks (HSV),  Chloroquine  menghambat pertumbuhan dengan akumulasi partikel HSV-1 yang tidak menular dalam jaringan trans-Golgi. Menggunakan coronavirus non-manusia, ditunjukkan bahwa situs intraseluler dari tunas coronavirus ditentukan oleh lokalisasi protein M membrannya yang terakumulasi di kompleks Golgi di luar situs virion budding, menunjukkan kemungkinan tindakan  Chloroquine  pada SARS. -CoV-2 pada langkah siklus replikasi ini. Baru-baru ini dilaporkan bahwa domain terminal-C dari protein MERS-CoV M mengandung sinyal lokalisasi jaringan trans-Golgi (Perrier et al. 2019).

  1. Tahap Pematangan Protein

Selain memengaruhi proses pematangan virus, modulasi pH oleh  Chloroquine  dapat merusak pematangan protein protein (Randolph et al. 1990) dan pengenalan antigen virus oleh sel dendritik, yang terjadi melalui jalur yang bergantung pada reseptor Toll seperti yang membutuhkan pengasaman endosom . Sebaliknya, efek lain yang disebabkan dari  Chloroquine  pada sistem kekebalan berfungsi meningkatkan produksi antigen terlarut ke dalam sitosol dan peningkatan respon sitositoksik CD8 + Tcell manusia terhadap antigen virus. Dalam model virus influenza, dilaporkan bahwa  Chloroquine  meningkatkan presentasi silang antigen virus yang tidak bereplikasi oleh sel dendritik menjadi sel T CD8 + yang direkrut ke kelenjar getah bening yang mengeringkan tempat infeksi, menimbulkan respons imun yang melindungi secara luas (Garulli et al. 2013).

Daftar Pustaka

Anderson, Larry J. dan Ralph S. Baric. 2012. “Emerging human coronaviruses – Disease potential and preparedness.” New England Journal of Medicine.

Arya, Rimanshee, Amit Das, Vishal Prashar, dan Mukesh Kumar. 2020. “Potential inhibitors against papain-like protease of novel coronavirus (SARS-CoV-2) from FDA approved drugs.” chemrxiv.org.

Benkert, Pascal, Silvio C. E. Tosatto, dan Dietmar Schomburg. 2008. “QMEAN: A comprehensive scoring function for model quality assessment.” Proteins: Structure, Function and Genetics.

Blau, Dianna M. dan Kathryn V. Holmes. 2001. “Human coronavirus HCoV-229E enters susceptible cells via the endocytic pathway.” in Advances in Experimental Medicine and Biology.

Chan, Jasper F. W., Kenneth S. M. Li, Kelvin K. W. To, Vincent C. C. Cheng, Honglin Chen, dan Kwok Yung Yuen. 2012. “Is the discovery of the novel human betacoronavirus 2c EMC/2012 (HCoV-EMC) the beginning of another SARS-like pandemic?” Journal of Infection.

Chan, Jasper Fuk Woo, Shuofeng Yuan, Kin Hang Kok, Kelvin Kai Wang To, Hin Chu, Jin Yang, Fanfan Xing, Jieling Liu, Cyril Chik Yan Yip, Rosana Wing Shan Poon, Hoi Wah Tsoi, Simon Kam Fai Lo, Kwok Hung Chan, Vincent Kwok Man Poon, Wan Mui Chan, Jonathan Daniel Ip, Jian Piao Cai, Vincent Chi Chung Cheng, Honglin Chen, Christopher Kim Ming Hui, dan Kwok Yung Yuen. 2020. “A familial cluster of pneumonia associated with the 2019 novel coronavirus indicating person-to-person transmission: a study of a family cluster.” The Lancet.

Chen, Yu, Qianyun Liu, dan Deyin Guo. 2020. “Emerging coronaviruses: Genome structure, replication, and pathogenesis.” Journal of Medical Virology.

Devaux, Christian A., Jean-marc Rolain, Philippe Colson, dan Didier Raoult. 2020. “Highlights.” International Journal of Antimicrobial Agents 105938.

Dominguez, Samuel R., Thomas J. O’Shea, Lauren M. Oko, dan Kathryn V. Holmes. 2007. “Detection of group 1 coronaviruses in bats in North America.” Emerging Infectious Diseases.

Donaldson, E. F., A. N. Haskew, J. E. Gates, J. Huynh, C. J. Moore, dan M. B. Frieman. 2010. “Metagenomic Analysis of the Viromes of Three North American Bat Species: Viral Diversity among Different Bat Species That Share a Common Habitat.” Journal of Virology.

Drosten, Christian, Stephan Günther, Wolfgang Preiser, Sylvie Van der Werf, Hans Reinhard Brodt, Stephan Becker, Holger Rabenau, Marcus Panning, Larissa Kolesnikova, Ron A. M. Fouchier, Annemarie Berger, Ana Maria Burguière, Jindrich Cinatl, Markus Eickmann, Nicolas Escriou, Klaus Grywna, Stefanie Kramme, Jean Claude Manuguerra, Stefanie Müller, Volker Rickerts, Martin Stürmer, Simon Vieth, Hans Dieter Klenk, Albert D. M. E. Osterhaus, Herbert Schmitz, dan Hans Wilhelm Doerr. 2003. “Identification of a novel coronavirus in patients with severe acute respiratory syndrome.” New England Journal of Medicine.

Eckerle, Isabella, Marcel A. Müller, Stephan Kallies, Daniel N. Gotthardt, dan Christian Drosten. 2013. “In-vitro renal epithelial cell infection reveals a viral kidney tropism as a potential mechanism for acute renal failure during Middle East Respiratory Syndrome (MERS) Coronavirus infection.” Virology Journal.

Garulli, Bruno, Giuseppina Di Mario, Ester Sciaraffia, Daniele Accapezzato, Vincenzo Barnaba, dan Maria R. Castrucci. 2013. “Enhancement of T cell-mediated immune responses to whole inactivated influenza virus by chloroquine treatment in vivo.” Vaccine.

Gloza-Rausch, Florian, Anne Ipsen, Antje Seebens, Matthias Göttsche, Marcus Panning, Jan Felix Drexler, Nadine Petersen, Augustina Annan, Klaus Grywna, Marcel Müller, Susanne Pfefferle, dan Christian Drosten. 2008. “Detection and prevalence patterns of group I coronaviruses in bats, northern Germany.” Emerging Infectious Diseases.

Ithete, Ndapewa Laudika, Samantha Stoffberg, Victor Max Corman, Veronika M. Cottontail, Leigh Rosanne Richards, M. Corrie Schoeman, Christian Drosten, Jan Felix Drexler, dan Wolfgang Preiser. 2013. “Close relative of human middle east respiratory syndrome coronavirus in bat, South Africa.” Emerging Infectious Diseases.

Kono, Masakazu, Koichiro Tatsumi, Alberto M. Imai, Kengo Saito, Takayuki Kuriyama, dan Hiroshi Shirasawa. 2008. “Inhibition of human coronavirus 229E infection in human epithelial lung cells (L132) by chloroquine: Involvement of p38 MAPK and ERK.” Antiviral Research.

Kronenberger, P., R. Vrijsen, dan A. Boeyé. 1991. “Chloroquine induces empty capsid formation during poliovirus eclipse.” Journal of Virology.

Kwiek, Jesse J., Timothy A. J. Haystead, dan Johannes Rudolph. 2004. “Kinetic Mechanism of Quinone Oxidoreductase 2 and Its Inhibition by the Antimalarial Quinolines.” Biochemistry.

De Lamballerie, Xavier, Véronique Boisson, Jean Charles Reynier, Sébastien Enault, Rémi N. Charrel, Antoine Flahault, Pierre Roques, dan Roger Le Grand. 2008. “On chikungunya acute infection and chloroquine treatment.” Vector-Borne and Zoonotic Diseases.

Lu, Roujian, Xiang Zhao, Juan Li, Peihua Niu, Bo Yang, Honglong Wu, Wenling Wang, Hao Song, Baoying Huang, Na Zhu, Yuhai Bi, Xuejun Ma, Faxian Zhan, Liang Wang, Tao Hu, Hong Zhou, Zhenhong Hu, Weimin Zhou, Li Zhao, Jing Chen, Yao Meng, Ji Wang, Yang Lin, Jianying Yuan, Zhihao Xie, Jinmin Ma, William J. Liu, Dayan Wang, Wenbo Xu, Edward C. Holmes, George F. Gao, Guizhen Wu, Weijun Chen, Weifeng Shi, dan Wenjie Tan. 2020. “Genomic characterisation and epidemiology of 2019 novel coronavirus: implications for virus origins and receptor binding.” The Lancet.

Misra, Vikram, Timothy Dumonceaux, Jack Dubois, Craig Willis, Susan Nadin-Davis, Alberto Severini, Alex Wandeler, Robbin Lindsay, dan Harvey Artsob. 2009. “Detection of polyoma and corona viruses in bats of Canada.” Journal of General Virology.

Parhizgar, Arezoo Rafiee. 2017. “Introducing new antimalarial analogues of chloroquine and amodiaquine: A narrative review.” Iranian Journal of Medical Sciences.

Perrier, Anabelle, Ariane Bonnin, Lowiese Desmarets, Adeline Danneels, Anne Goffard, Yves Rouillé, Jean Dubuisson, dan Sandrine Belouzard. 2019. “The C-terminal domain of the MERS coronavirusMprotein contains a trans-Golgi network localization signal.” Journal of Biological Chemistry.

Randolph, Valerie B., Gunther Winkler, dan Victor Stollar. 1990. “Acidotropic amines inhibit proteolytic processing of flavivirus prM protein.” Virology.

Ratliff, Norman B., Melinda L. Estes, Jonathan L. Myles, Earl K. Shirey, dan James T. McMahon. 1987. “Diagnosis of Chloroquine Cardiomyopathy by Endomyocardial Biopsy.” New England Journal of Medicine 316(4):191–93.

Rota, Paul A., M. Steven Oberste, Stephan S. Monroe, W. Allan Nix, Ray Campagnoli, Joseph P. Icenogle, Silvia Peñaranda, Bettina Bankamp, Kaija Maher, Min hsin Chen, Suxiong Tong, Azaibi Tamin, Luis Lowe, Michael Frace, Joseph L. DeRisi, Qi Chen, David Wang, Dean D. Erdman, Teresa C. T. Peret, Cara Burns, Thomas G. Ksiazek, Pierre E. Rollin, Anthony Sanchez, Stephanie Liffick, Brian Holloway, Josef Limor, Karen McCaustland, Mellissa Olsen-Rasmussen, Ron Fouchier, Stephan Günther, Albert D. H. E. Osterhaus, Christian Drosten, Mark A. Pallansch, Larry J. Anderson, dan William J. Bellini. 2003. “Characterization of a novel coronavirus associated with severe acute respiratory syndrome.” Science.

Savarino, Andrea, Livia Di Trani, Isabella Donatelli, Roberto Cauda, dan Antonio Cassone. 2006. “New insights into the antiviral effects of chloroquine.” Lancet Infectious Diseases.

Superti, Fabiana, Lucilla Seganti, N. Orsi, M. Divizia, Rosanna Gabrieli, dan A. Panà. 1987. “The effect of lipophilic amines on the growth of hepatitis A virus in Frp/3 cells.” Archives of Virology.

Tricou, Vianney, Nguyet Nguyen Minh, Toi Pham van, Sue J. Lee, Jeremy Farrar, Bridget Wills, Hien Tinh Tran, dan Cameron P. Simmons. 2010. “A randomized controlled trial of chloroquine for the treatment of dengue in vietnamese adults.” PLoS Neglected Tropical Diseases.

Tsai, Wen po, Peter L. Nara, Hsiang fu Kung, dan Stephen Oroszlan. 1990. “Inhibition of Human Immunodeficiency Virus Infectivity by Chloroquine.” AIDS Research and Human Retroviruses.

Tsiang, H. dan F. Superti. 1984. “Ammonium chloride and chloroquine inhibit rabies virus infection in neuroblastoma cells.” Archives of Virology.

Vincent, Martin J., Eric Bergeron, Suzanne Benjannet, Bobbie R. Erickson, Pierre E. Rollin, Thomas G. Ksiazek, Nabil G. Seidah, dan Stuart T. Nichol. 2005. “Chloroquine is a potent inhibitor of SARS coronavirus infection and spread.” Virology Journal.

Wang, Manli, Ruiyuan Cao, Leike Zhang, Xinglou Yang, Jia Liu, Mingyue Xu, Zhengli Shi, Zhihong Hu, Wu Zhong, dan Gengfu Xiao. 2020. “Remdesivir and chloroquine effectively inhibit the recently emerged novel coronavirus (2019-nCoV) in vitro.” Cell Research.

Yan, Yiwu, Zhen Zou, Yang Sun, Xiao Li, Kai Feng Xu, Yuquan Wei, Ningyi Jin, dan Chengyu Jiang. 2013. “Anti-malaria drug chloroquine is highly effective in treating avian influenza A H5N1 virus infection in an animal model.” Cell Research.

Zaki, Ali Moh, Sander Van Boheemen, Theo M. Bestebroer, Albert D. M. E. Osterhaus, dan Ron A. M. Fouchier. 2012. “Isolation of a novel coronavirus from a man with pneumonia in Saudi Arabia.” New England Journal of Medicine.

Genetika Dasar

Apakah Gen Itu?

Gen merupakan unit hereditas yang bertempat di lokus kromosom dan memiliki fungsi seluler melalui sintesa protein. Secara sistematik, gen berada di dalam loki (jamak= lokus) yang tersusun di dalam sebuah kromosom. Kromosom berada di setiap inti sel tubuh dan jumlahnya bervariasi antar spesies. Kromosom terbentuk sejak awal masa fertilisasi dan pembentukan satu sel pertama (zigot) kehidupan suatu organisme. Sehingga, sekuens DNA dalam kromosom sama jumlahnya dalam seluruh inti sel.

DNA memiliki bentuk double helix dengan rantai yang sejajar RNA disebut daerah coding dan rantai DNA yang menjadi tatakannya disebut daerah anticoding. Sementara gen memiliki bagian-bagian yang akan disandi menjadi polipeptida (disebut CDS, coding sequence) dan bagian-bagian tidak tersandi yang terdiri dari sekuens promotor, untransated region (UTR), intron, dan terminator.

Gambar 1 Struktur Gen

Promotor dan terminator

Promotor

Nukleotida pertama dari gen struktur adalah nukleotida pada suatu titik tempat transkripsi dimulai, yaitu pada tempat mulai transkripsi atau transcription initiation site. Akhir dari gen struktur disebut tempat akhir transkripsi atau transcription termination site. Melalui kesepakatan, nukleotida dari gen struktur dinomori dari awal tempat mulai transkripsi (downstream), dan basa-basa yang mendahului tempat tersebut dinomori negatif, yaitu –1, –2, dan seterusnya (upstream). Promotor adalah tempat ribosom melekat dan tempat sebelum dimulainya transkripsi. promotor memiliki runutuan nukleotida yang spesifik dan konservatif Sebagai contoh, terdapat TATA box dengan runutan nukleotida TATAAA yang terletak sekitar 25 basa upstream, kemudian CAAT box dengan runutan nukleotida GGCCAATCT.

Terminator

Akhir dari pentranskripsian masih kurang dimengerti dengan baik disbanding promotor. Tidak terdapat runutan konservatif yang berkaitan dengan tempat ini, tetapi terdapat daerah yang sangat konservatif dengan runutan konsensus AATAAA (AAUAAA pada mRNA) yang terletak 10–30 basa sebelum tempat akhir, yang tampaknya merupakan tempat pengenalan pada mRNA untuk faktor yang mengontrol pemotongan.

Gambar 2 Daerah promotor dan terminator

Split gene (Intron)

Struktur gen sebenarnya jauh lebih Panjang ketimbang sekuens gen yang diekspresikan menjadi protein (CDS). Sebagai gambaran, struktur suatu gen rata-rata memiliki Panjang 100.000 bp, sementara Panjang CDS hanya berkisar 1.000 bp per gen, sehingga CDS yang terkekspresi menjadi protein dari suatu gen ternyata hanya 1% dari bagian keseluruhan total gen. Sekuens ini yang sebagian besar merupakan intron. Intron pada dasarnya merupakan bagian gen yang ditranskripsi menjadi primary transcript, kemudian sebelum ditranslasi, intron-intron tersebut di-splicing dan semua ekson akan digabung menjadi satu (Gambar 4). Intron memiliki bagian yang cukup konservatif sebagai penanda pada pangkal ujung dan pangkalnya berturut-turut GT dan AG (Gambar 3).

Gambar 3 Intron (gambar non-merah)

Untranlated region (UTR)

Kenyataannya, transkripsi dimulai sebelum triplet pemulai dan berakhir setelah triplet pemberhenti. Ini berarti bahwa mRNA mempunyai untranslated region pada tiap ujungnya. Pada eukariot transkripsi seringkali tidak dimulai pada ujung kodon start, namun pada pangkal mRNA, sehingga pangkal mRNA hingga kodon start ini disebut 5’UTR dan kodon stop hingga ujung mRNA disebut daerah 3’UTR.

Gambar 4 Struktur gen dan proses pembentukan protein

Regulasi Gen

Akan terjadi kekacaublauan jika semua gen ditranslasikan di semua sel sepanjang waktu. Kenyataannya sejak fertilisasi hingga kematian, perkembangan organisme ditentukan oleh on dan off gen pada saat dan tempat yang tepat. Regulasi ini diatur bermacam-macam protein yang melekat ke dan dilepaskan dari bagian upstream sekuen DNA yaitu daerah promotor dan enchancer, serta terkadang di dalam gen struktur (intron), seperti TATA box, CAAT box, GC box, metilasi pada CpG island, dan specific protein pada promotor.

Mutasi

DNA dalam mereplikasi melibatkan proses yang sangat baik dan biasanya berlangsung sangat sempurna, meski demikian beberapa kesalahan minor terjadi dari waktu ke waktu. Beberapa kesalahan tersebut lantas langsung diperbaiki oleh mekanisme sel, namun beberapa perubahan yang terlewat akibat kesalahan replikasi atau adaptasi dengan lingkungan menyebabkan perubahan runutan untai DNA. Kesalahan yang tidak diperbaiki dalam pereplikasian DNA dinamakan mutasi.

Mutasi pada satu untai nukleotida dinamakan point mutation (mutase gen) yang melibatkan subtitusi, insersi, atau delesi nukleotida dalam untai DNA. Beberapa istilah mutase gen dapat berupa mutase nonsense yang diakibatkan mutase pada triplet TAT (tirosin) menjadi TAA (kodon stop), sehingga sekuen gen struktur menjadi lebih pendek. Mutasi mis-sense (non-synonymous mutation) terjadi karena subtitusi pada triplet menyebabkan subtitusi asam amino, dan kebalikannya merupakan mutasi silent (synonymous mutation). Tipe mutase lainnya yang melibatkan penghiangan (delesi) atau penyisipan (insersi) dinamakan mutase frameshift.

Gen, Alel, dan Lokus

DNA tersusun dalam tempat tertentu di dalam kromosom yang dinamakan alel, sementara posisi gen di dalam kromosom dinamakan lokus (jamak, loki). Jika keturunan berasal dari penyatuan sperma dengan DNA normal dan sel telur dengan DNA terubah atau DNA mutan pada satu dari kromosomnya, maka keturunan itu akan mempunyai satu kromosom normal dan satu kromosom mutan, yang membentuk pasangan homolog yang sesuai. Hewan dengan dua alel yang berbeda pada lokus tertentu dikatakan bersifat heterozigot pada lokus itu. Sebaliknya, jika hewan mempunyai dua kopi alel yang sama maka hewan itu bersifat homozigot pada lokus tersebut.

Meskipun kedua hewan dapat mempunyai maksimal hanya dua alel yang berbeda pada suatu lokus, jumlah alel yang berbeda dalam populasi hewan dapat jauh lebih besar dari dua. Jika lebih dari dua alel berada dalam populasi pada lokus tertentu, maka lokus itu dikatakan mempunyai alel ganda (multiple-allele).

Pewarisan Sederhana dan Hukum Mendel

Pewarisan merupakan penurunan gen dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dan ternyata pewarisan ini dapat diprediksi. Augustinian Gregor Mendel adalah orang pertama yang memformulasikan prediksi itu melalui penelitiannya pada kacang ercis pada pertengahan abad lalu.

Lokus tunggal

Lokus yang diploid akan mengalami segregasi selama proses meiosis, dan rasio dari jenis keturunan yang berbeda sebagai akibat perkawinan tetua dinakan rasio segregasi. Persilangan antara tetua heterozigot (Bb) dengan homozigot resesif (bb) akan menghasilkan rasio segregasi Bb : bb atau dapat ditulis 1Bb:1bb

Multiple lokus

Asumsi Mendel menyatakan bahwa segregasi pada tiap lokus bersifat bebas dari pengaruh lokus lain. Sebagai misal, jika individu bersifat heterozigot pada dua lokus BbDd, maka gamet yang dihasilkan dapat berupa BD, Bd, bD, dan bd yang akan dihasilkan dengan frekuensi sama

Lokus terpaut kelamin

Pola pewarisan pada kromosom yang terpaut kelamin memiliki mekanisme yang berbeda dengan pola pewarisan pada koromsom autosom. Mamalia memiliki sepasang kromosom kelamin, yakni X dan Y, dan hanya kromosom X yang membawa lokus hereditas. Pola pewarisannya disebut pewarisan lokus terpaut-X dapat diilustrasikan pada checkboard

Gambar 5 Checkboard persilangan gamet jantan dan betina pada kromosom kelamin

Keterpautan (Linkage)

Kromosom, pada dasarnya, tidak diwariskan sebagai satu unit kesatuan, karena jauh sebelum fertilisasi, tepatnya pada sinapsis fase meiosis I kromosom homolog mengalami rekombinasi atau pindah silang. Selama fase sinapsis tersebut, pematahan dan penyambungan-kembali kromatid terjadi. Jika dua segmen dari kromatid yang patah menyambung kembali, kromatid itu masih akan diwariskan sebagai unit kesatuan. Akan tetapi, jika patahan terjadi pada posisi yang sama pada dua kromatid yang berdekatan, maka kadang-kadang segmen tersebut mengubah pasangannya, yang membentuk kromatid rekombinan. Jika dua kromatid berasal dari satu homolog, yaitu tergabung pada sentromernya (dinamakan sister chromatid), pindah silang tidak mempunyai pengaruh, karena sister chromatid merupakan kembaran dari satu sama lainnya. Akan tetapi, jika dua kromatid tersebut adalah non-sister chromatid (satu dari homolognya dan satu dari yang lain), pindah silang menyebabkan pertukaran seimbang dari gen antara kromosom homolog.

Gambar 6 Tahapan pindah silang antara sepasang kromosom homolog

Jika dua lokus berada sangat berdekatan pada kromosom yang sama, maka fraksi rekombinasi yang diamati sangat rendah dan lokus tersebut dikatakan bersifat terpaut erat. Semakin jauh jarak dua lokus pada kromosom yang sama, semakin besar peluang terjadinya pindah silang di antara keduanya, dan oleh karena itu semakin besar fraksi rekombinasinya. Untuk lokus yang terletak sangat berjauhan pada kromosom yang sama, gamet rekombinan sama frekuensinya dengan gamet non-rekombinan, yang menyebabkan nilai fraksi rekombinasi maksimum 50%. Lokus yang letaknya cukup berjauhan pada kromosom yang sama sehingga mempunyai fraksi rekombinasi 50% dikatakan tak-terpaut secara efektif walaupun mereka sebenarnya berada pada satu kromosom. Mereka dikatakan tak-terpaut secara efektif karena mereka bersegregasi secara bebas, seolah-olah mereka berada pada kromosom yang berbeda.

Hubungan antara fraksi rekombinasi dan jarak antara dua lokus memungkinkan pembuatan peta keterpautan (linkage map), dimana lokus ditempatkan berdasarkan fraksi rekombinasi di antara mereka. Pada peta seperti itu, jarak antara lokus diekspresikan sebagai jarak peta (map distance), (dalam unit dinamakan centimorgan, cM), yang sama dengan 100 kali fraksi rekombinasi. Dengan menghitung fraksi rekombinasi di antara banyak pasangan lokus dalam spesies, kelompok dari lokus terpaut (kelompok keterpautan) menjadi dapat dimengerti. Karena lokus dalam tiap grup adalah terpaut, mereka pasti terletak pada kromosom yang sama.

Inaktivasi

Inaktivasi-X dan kompensasi dosis

Jumlah kromosom seks pada manusia adalah dua buah, dengan kromosom X membawa lokus dan kromosom Y tidak membawa lokus. Bila diperhatikan, wanita akan memiliki lebih banyak lokus dibanding pria, karena memiliki dua jumlah kromosom X. Namun, nyatanya tidaklah demikian, karena salah satu kromosom X mereka dalam proses yang disebut inaktivasi-X.

Pada inaktivasi-X, sebuah kromosom X akan mengecil padat dan sangat kompak yang disbut bentuk Barr (Barr body). Banyak dari gen di daerah ini menjadi tidak aktif karena tidak ditranskripsi.

Seorang wanita yang memiliki dua kromosom X, satu kromosom masing-masing dari orang tua. X mana yang akan inaktif? Inaktif-X terjadi secara random dan prosesnya terpisah selama pembentukan embrio.

Imrpinting

Inaktivasi tidak hanya terbatas pada kromosom X. Imprinting termasukfenomena epigenetic yang menybabkan gen diekspresikan tergantung perilaku orang tuanya. Genomic imprinting adalah proses pewarisan independent yang mengikuti pola pewarisan Mendel. Proses ini melibatkan metilasi DNA danmetilasi histon tanpa mengubah runutan sekuens genetik.

Inaktivasi akibat metilasi

Pada level molekuler, inaktivasi berhubungan dengan penambahan grup metil (CH3) ke molekul sitosin yang terjadi dekat dengan sisi 5´molekul guanin, yaitu inaktivasi terkait dengan metilasi sitosin pada suatu yang disebut CpG island, dimana p kependekan dari ikatan fosfat antaradua basa yang berdekatan. Dalam individu seekor hewan, semua turunandari setiap sel tempat kejadian pertama inaktivasi mempunyai gen ataukromosom inaktif yang sama, karena setelah setiap replikasi dari rangkaianDNA termetilasi, rangkaian baru tersebut secara otomatis termetilasi padatempat CpG yang sama seperti pada rangkaian aslinya. Akan tetapi, pada meiosis atau pada perkembangan embrio awal, pola metilasi diatur kembali. Tidak semua pola metilasi merupakan satu set sepanjang kehidupan hewan. Pada kenyataannya, pada daerah yang dijadikan inaktivasi-X atau imprinting, metilasi CpG island pada promoter merupakan karakter umum dari gen inaktif, dan metilasi merupakan prasyarat untuk transkripsi banyak gen. Jadi metilasi merupakan cara lain gen diregulasi.

Metilasi DNA adalah bagian proses biologis yang berupa penambahan gugus metal (CH3) ke moleku sitosin didekat guanin. Metilasi dapat merubah aktivitas DNA tanpa mengubah sekuensnya. Ketika berlokasi di promotor, metilasi DNA dapat menekan transkripsi gen. Pada mamalia, metilasi DNA berperan dalam perkembangan dan asosiasinya terhadap sejumlah proses penting genomic imprinting, Inaktivasi-X, penekan elemen transposable, penuaan, dan karsiogenesis.

Tipe DNA

Untai sekuens DNA dapat berbentuk berbagai maca, diantaranya adalah

Sekuens unik atau kopi tunggal (single-copy) yang kira-kira membentuk 60-70% dari genom mamalia. Sekuens kopi tunggal ini tersebar di seluruh genomdan proporsi kecilnya merupakan gen

Multiple family yang trediri atas sekumpulan gen yang sangat mirip atau identik, yang jumlah inidividualnya biasanya tersebar di seluruh genom, atau, dalam beberapa kasus, terjadi sebagai sekelompok gen yang berdekatan. Tidaklah mengherankan, gen yang terjadi dalam bentuk multigene family adalah gen yang produknya diperlukan dalam jumlah yang relatif besar, misalnya histon, keratin, kolagen, ribosomal RNA, dan transfer RNA

Repetitive DNA yang terdiri atas kopi-kopi multiple dari sekuen tertentu yang dinamakan unit ulangan (repeat unit), yang ukurannya berkisar dari basa tunggal sampai beberapa ribu basa. Repetitive DNA tampak meningkat kepentingannya dalam tahun-tahun terakhir ini, dengan kenyataan bahwa itu berperan pada beberapa penyakit keturunan yang penting

Transposable genetic element (TGE) atau jumping gene pada satu ujung adalah inverted repeat (atau kadang-kadang direct repeat) dari sekuen pada ujung lainnya. Pada sapi, misalnya, ada satu TGE yang berukuran 611 basa, yang dapat dibaca dari kanan maupun dari kiri

´ GCCGGGGA…TCCCCGGC 3´
3´ CGGCCCCT…AGGGGCCG 5

More

Jika Aku Sakit

sakit

Pahit manis kehidupan pasti dirasakan setiap manusia. Kadang merasa nikmat, terkadang juga tidak. Terkadang merasa fit, terkadang juga merasa sakit. Jika tubuh dalam kondisi yang sehat, aktifitas kita akan terasa lebih ringan dan lancar. Keadaan yang seperti ini sudah seharusnya kita syukuri, karena nikmat yang seperti ini adalah kemurahan Allah yang mungkin tidak semua orang dapat merasakannya, dan mungkin saja nikmat ini suatu saat dicabut oleh Allah swt..

Kemudian apabila tubuh sehat, akan terbuka peluang yang lebih besar bagi kita untuk meningkatkan kesehatan kita dengan pola hidup yang sehat dan olahraga yang teratur. Namun, bila tubuh sakit, tentu kondisi tubuh akan semakin lemah. Agar tubuh senantiasa sehat, tentu kita harus punya strategi jitu untuk mengatasi sakit baik secara preventif maupun kuratif. Tindakan preventif sendiri sudah banyak sekali dijelaskan di artikel-artikel lain, sehingga tidak perlu lagi dibahas di sini. Khusus untuk tindakan kuratif, di sini akan dibahas berbeda dari cara orang awam atau cara-cara penyembuhan dokter modern, karena cara ini adalah cara yang islami.

Islam sesungguhnya sudah mengajarkan manusia bagaimana cara ampuh mengatasi sakit secara komprehensif, bahkan least cost. Setidaknya ada 7 cara ampuh untuk mengatasi sakit apabila datang menyerang tubuh, yang pertama adalah sholat dua rakaat. Rasulullah menganjurkan muslim untuk sholat dua rakaat apabila sedang menghadapai masalah, termasuk ketika sakit. Namun apabila, kita belum merasa sehat kita dapat melakukan cara yang kedua, yaitu dengan membacakan surat Al-Fatihah lalu ditiupkan ke dalam gelas yang berisi sir untuk kemudian diminum. Namun bila belum juga sembuh, mungkin Allah sedang menguji kita. Cara yang kita adalah dengan bersedakah, mungkin di kala sehat kita lupa memerhatikan orang-orang yang kekurangan, maka dengan bersedekah akan timbul rasa senang dalam hati yang dapat meningkatkan kesehatan kita.

Sesungguhnya dalam sakit itu seseorang dapat dikategorikan ke dalam dua jenis/kelompok. Kelompok pertama, mungkin ia sedang mengalami ujian dari Allah untuk menguji imannya juga tentang rasa sabarnya, maka cara menyembuhkannya insya Allah dapat dilakukan dengan tiga cara di atas. Sedangkan untuk kelompok kedua, mungkin saja ia sedang diadzab oleh Allah karena dosa-dosanya. Maka cara pertama-tama yang harus dilakukannya adalah mengevaluasi dirinya, kemudian memperbanyak istighfar dan memohon ampun agar dihapuskan dosa-dosanya. Cara ini dapat diikuti dengan mengonsumsi madu dan habbatusauda sebagai makanan yang dapat menyehatkan tubuh. Kemudian makanan-makanan herbal dapat lebih mempercepat penyembuhan. Namun, apabila sehat tak kunjung datang, maka cara terakhir ini dapat dilakukan, karena memang juga diperbolehkan, yaitu berobat ke dokter. Namun sebaiknya, kita mencari dokter yang shalih dan juga mukmin, agar selain kesembuhan yang didapat, insya Allah keberkahan juga yang kita cari.

Dengan begitu hidup sehat dapat terwujud dengan biaya rendah dan keberkahan maksimal. Insya Allah kita sama-sama niat amal dan sampaikan

Pembangkitan Fungsi Koperasi di Era Globalisasi

Perdagangan global
Kebijakan nasional di suatu negara tidak terlepas dari pengaruh globalisasi. Globalisasi dicirikan dengan keterbukaan ekonomi dan perdagangan yang bebas. Dengan demikian, akan sulit ditemukan adanya kebijakan nasional yang lepas dari pengaruh-pengaruh tersebut.
Perdagangan bebas dalam era globalisasi kini diregulasi dan diatur dalam bentukan organisasi dunia yang bernama WTO. WTO (World Trade Organisation) merupakan organisasi internasional yang memayungi pergerakan perdagangan secara bebas bagi negara-negara anggotanya. Diharapkan melalui organisasi ini setiap anggota dapat memasuki pasar dunia yang terbuka, kemudain setiap negara anggota juga mampu menekan biaya produksi, meningkatkan investasi, pendapatan dan tabungan dari alokasi sumber daya yang lebih efisien (Jhingan, 2007).
Namun, seiring berjalannya waktu tidak semua manfaat pasar bebas didapat oleh anggota WTO, tetapi hampir semua negara berkembang mendapatkan dampak negatif dari perdagangan bebas, sedangkan negara maju yang menikmati dampak positif. Faktor-faktor utama yang menjadi perbedaan signifikan antara negara maju dan negara berkembang adalah adanya perbedaan teknologi, sumber daya manusia, kebijakan domestik dan modal diantara keduanya. Umumnya, negara berkembang memiliki teknologi pemanfaatan sumberdaya yang sederhana, sedangkan negara maju memiliki teknologi pemanfaatan yang tinggi dan mampu memproduksi mesin-mesin dan produk jadi, sehingga negara berkembang seringkali menjadi sasaran impor bahan-bahan produk jadi dari negara maju.
Penggagas perdagangan bebas, seperti Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE) sebaliknya tidak mudah membuka peluang impor bagi negara lain. UE memberikan beban tarif yang besar, standar kualitas produk yang tinggi, dan waktu impor yang terbatas, yaitu hanya periode Maret – Agustus bagi negara-negara lain yang ingin mengimpor produknya (Sihombing, 2006), sehingga hal ini menyulitkan negara berkembang untuk menembus pasar-pasar negara maju. Setali tiga uang, Amerika serikat menetapkan pemberian subsidi domestik dan subsidi ekspor yang tinggi bagi pelaku usaha di negaranya agar pelaku-pelaku usaha tersebut mampu bersaing (dalam hal harga) dengan negara-negara lain. Hal ini juga yang menumpulkan daya saing negara berkembang.
Organisasi lain yang turut berperan dalam pasar global adalah adanya IMF (International Monetary Fund). Indonesia pada akhir tahun 1997 meminta bantuan kepada IMF untuk stabilisasi perekonomian nasional. Namun imbalan yang harus indonesia berikan berupa pereformasian kebijakan makro yang berisi penurunan bea masuk impor produk pangan dan menghapuskan peran BULOG dalam monopoli impor dan distribusi beras.
Pertanian Indonesia
Perundingan dari WTO juga menyangkut bidang pertanian. Dalam perjanjian Ageement of Agriculture (AoA), negara anggota diwajibkan untuk mengurangi jumlah subsidi domestik, mengurangi subsidi ekspor produk pertanian, dan menjalankan akses pasar bebas. Perjanjian ini menimbulkan dampak cukup serius bagi Indonesia, dalam bidang ekonomi dan non-ekonomi perpindahan faktor produksi yang relatif cepat dan singkat dari sektor pertanian ke sektor manufaktur mempengaruhi kualitas hidup masyarakat secara umum. Lebih lanjut, menurut Hardono (2004:83), studi yang dilakukan oleh Sitepu (2002) menunjukkan bahwa kebijakan penghapusan subsidi harga input berdampak pada penurunan produksi dan pendapatan petani. Pemberlakuan liberalisasi perdagangan (dengan penghapusan peran BULOG dalam pengadaan dan penyaluran gabah/beras serta penghapusan tarif) tidak efisien dan tidak tepat dilaksanakan karena keuntungan yang diterima konsumen lebih kecil daripada kerugian yang diderita produsen sehingga total net surplus berkurang. Akibatnya kebijakan ini merugikan petani kecil yang umumnya miskin dan akan memperburuk distribusi pendapatan.
Pertanian di bawah rezim WTO ini sungguh merugikan petani di Indonesia. Terlebih lagi petani gurem yang hanya mempunyai lahan yang sempit, alat dan teknologi pertanian yang terbatas, serta produktivitas yang rendah. Mereka terpojokkan dengan pencabutan subsidi pupuk dan  kebijakan impor komoditas pertanian yang dilakukan pemerintah.
Pentingnya memecahkan masalah
Sistem pertanian di Indonesia ssangat perlu dibenahi, karena apabila tidak banyak perubahan, baik dalam hal infrastruktur, peraturan, dan kebijakan bukannya tidak mungkin Indonesia nanti hanya menjadi rantai pemasok sumberdaya bagi kapitalisme negara-negara di ASEAN.
Pemerintah perlu memperjelas posisi Indonesia di WTO. Pemerintah akan terus dilematis menghadapi WTO, IMF, dan”Kekaisaran Kapitalisme” lainnya apabila tidak menegaskan posisi. Sehingga langkah-langkah maju yang visioner sangat diperlukan bagi kemajuan pertanian Indonesia. Salah satu program pemerintah yang perlu mendapat apreciate lebih adalah adanya upaya Presiden Jokowi untuk  mewujudkan kedaulatan pangan dalam tiga tahun ke depan, rencananya Presiden Jokowi akan membuat 52 waduk sebagai pengairahan lahan pertanian. Karena mengingat banyaknya saluran irigasi pertanian rakyat yang tidak berfungsi lagi. Program-program yang seperti ini harus mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, agar tidak ada oligaki-oligarki yang merusak kebijakan Presiden Jokowi.
Pemerintah sering memperkenalkan sejumlah varietas unggul ke masyarakat, seperti kedelai varietas Rajabasa, yang produktivitasnya tinggi dan tahan penyakit karat daun, atau varietas lainnya. Tetapi hal yang dibutuhkan pada dasarnya adalah kajian sosio-ekonomiko-politiko-kultural agar membuat masyarakat yakin. Pemerintah sudah saatnya mempunyai daya tawar yang kuat untuk menjalankan roda pertanian, yakni dengan bertindak bijak terhadap keadaan pasar global dan menjalankan program yang pro rakyat, tidak hanya sekedar mengkoordinir, tetapi juga ada tindak lanjutnya sampai langkah pendistribusian ke tangan petani.
Koperasi sebagai solusi
Koperasi sebagai identitas perekonomian kekeluargaan Bangsa Indonesia perlu untuk dibangun kembali. KUD dan KUR yang dulu pernah bergaung memang sangat sesuai dengan keadaan masyarakat Indonesia, namun beberapa permasalahan di KUD dan KUR harus dievaluasi dan diperbaiki, karena dari sistem yang ada terdapat beberapa permasalahan. Petani rakyat belum siap dengan sistem kredit, apalagi bila harus ada agunan dan standar karakter hasil pertanian yang belum dapat dipenuhi oleh petani-petani rakyat.
Koperasi Unit Desa (KUD) yang dulu pernah digarap, kini semakin tenggelam. Tidak banyak lagi hasil pertanian dari pengelolaan KUD, karena faktor tengkulak pertanian dan regulasi pemerintah yang kurang pro rakyat.
Apabila KUD dan KUR digiatkan lagi dengan sistem yang lebih matang tentunya hal ini akan menjadi pendongkrak kemajuan pertanian Indonesia. Pemerintah sudah selayaknya menerapan distribusi kebutuhan petani yang disalurkan melalui koperasi dan langsung di pantau oleh pemerintah. Pemerintah juga selayaknya memberikan subsidi domestik yakni dalam hal pupuk, peningkatan harga yang menguntungkan petani, subsidi pertanian yang mendukung kegiatan ekspor, pembatasan impor, dan memberikan kemudahan produk pertanian untuk memasuki pasar, sehingga diharapkan produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani meningkat.
Kemudian peningkatan produktivitas sebaiknya didukung pula dengan pengolohan komoditas pertanian yang sustainable sehingga mampu memberikan nilai tambah yang kontinyu. Salah satu kebijakan cerdas pemerintah yang telah dan sedang adalah membangun industri di luar Jawa. Potensi-potensi pertanian yang ada di daerah luar Jawa akan semakin baik ketika dibangun koperasi dan perindustrian. Sehingga diharapkan dengan adanya semua program ini pertanian Indonesai menjadi semakin maju, dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri dengan swa sembadanya, dan mampu merajai pasar internasional.

Adab Istinja

Bismillahirrahmanirrahim
Istinja adalah bersuci dari hadas, baik hadas besar maupun hadas kecil. Berikut beberapa adab dalam beristinja.
A.     Anjuran dalam istinja:
1.       Masuk WC dengan kaki kiri lebih dahulu. (Tirmidzi). *usahakan masuk dengan beralas kaki untuk menghindari najis. (Imam Nawawi).
2.       Sebelum masuk WC disunnahkan membaca doa:
a.       Allahumma inni a’uudzubika minal-khubutsi wal-khobaaits
                                                               i.      Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari gangguan setan laki-laki dan wanita. (Bukhari, Muslim)
3.       Keluar WC melangkahkan kaki kanan lebih dahulu, dan membaca doa:
a.       Ghufraanaka. Al-hamdulillahi-lladziy adzhaba anniy-ladzaa wa ‘aafanii
                                                             ii.      Aku memohan ampuna-Mu. Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan penyakit dariku dan telah menyembuhkanku. (Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah)
4.       WC adalah tempat berkumpul setan, mudharat berlama-lama di dalamnya. Jika selesai hajatnya, secepatnya keluar dari WC. (Nasa’i Ibnu Majah)
5.       Dianjurkan bertutup kepala ketika di dalam WC, dan baru membukanya jika perlu membasahi rambut kita. (Ibnu Sa’ad). *jika tidak ada penutup kepala, hendaknya ditutup dengan lengan baju. (Imam Nawawi).
6.       Buang air hendaknya DUDUK, JANGAN BERDIRI. (Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Nasa’i). *caranya: bertumpu di atas kaki kiri dan kaki kanan tegak di atas alas. Hal itu lebih memudahkannajis najis keluar  dan mengistirahatkan anggota tubuh utama, seperti lambung, dsb.. (Imam Nawawi).
7.       Hendaknya beristinja hanya dengan tangan kiri. Jangan menyentuh kemaluan dengan tangan kanan. (Bukhari, Nasa’I, Muslim, Tirmidzi)
8.       Sunnah menghemat air. Gunakan secukupnya. (Tirmidzi).
9.       Hati-hati dengan cipratan air kencing, terutama ketika kencing berdiri. Banyak orang disiksa di dalam kubur, karena tidak berhati-hati ketika istinja dan tidak sempurna ketika berwudhu. (Bukhari, Muslim, Ibnu Majah).
B.     Larangan Dalam Istinja
1.       Jangan membawa lafazh ‘Allah’ dan ‘Muhammad’ atau ayat-ayat Alquran ke dalam WC .(Nasa’i).
2.       Jangan membuang hajat ke arah kiblat
3.       JANGAN BERBICARA atau berkomunikasi di dalam WC (Abu Dawud, Ibnu Majah).
a.       Menjawab salam pun tidak boleh ketika di WC. Menjawabnya cukup dengan isyarat . (Muslim, Thabrani, Nasa’i)
4.       Tidak boleh berdua di dalam kamar mandi, kecuali suami istri. (Ahmad).
5.       Jangan makan, bernyanyi, atau bersiul di dalam WC walaupun tidak sedang buang air atau mandi. (Ahmad)
6.       Jangan menampakkan aurat ketika buang air.
7.       Laki-laki tidak boleh melihat aurat sesama laki-laki dan wanita tidak boleh melihat aurat sesama wanita. (Ibnu Askir).
8.       Makruh KENCING DI TEMPAT MANDI, karena khawatir sisa air kencing akan mengenai badan orang yang mandi. (Thabrani).
9.       Jangan menggunakan jari telunjuk dan jari jempol untuk istinja.  Setelah selesai hendaknya tangan digosokan ke tanah atau dinding (sekarang sudah ada sabun) untuk menghilangkan bau, lalu dicuci dengan air. (Imam Nawai).
10.   Jangan memandang ke langit, ke farjinya, atau ke kotoran yang keluar darinya. Dan makruh bagi orang yang buang hajat itu berbicara atau melakukan pekerjaan lain selain membuang hajatnya. (Muslim, Ahmad)

Adab Wudhu

Wudhu adalah sah sholat. Firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan sholat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu samai siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai kedua mata kaki.” (Al-Maidah: 6)

  • Niat bersuci dari hadits kecil. Jangan sampai tertinggal niat, hingga membasuh muka. (Asy-Syafi’i). *sebaiknya berniat bukan hanya untuk mensucikan badan, tetapi juga membersihkan kotoran hati. (Imam Nawawi).
  • Dianjurkan berwudhu menghadap kiblat. (imam Nawawi).
  • Disarankan bersiwak (sikat gigi) setiap berwudhu. Jika tidak ada, dapat menggunakan jari telunjuk. (Bukhari, Muslim). *bersiwak dapat menjadi wajib,  jika setelah memakan bawang merah atau putih pada hari Jum’at. (Imam Nawawi).
  • Jangan membasuh muka dengan menyiram air langsung. Baik ditampeng dulu si kedua telapak tangan, lalu diusapkan kemuka. (Imam Nawawi).
  • Cara mengusap kepala satu kali dalam berwudhu adalah: meletakkan sebagian jari-jemari telapak tangan di ujung kepala tempat tumbuhnya rambut, lalu diitarik ke belakang ssampai tengkuk, kemudian dikembalikan ke bagian pertama tadi. (Abu Dawud). *Membasuh khusus tengkuk bukanlah bagian wudhu. (Imam Nawawi).
  • Cara membasuh kedua telinga satu kali dalam berwudhu yaitu: dua jari telunjuk diletakkan di lubang telinga, lalu diputarkan ibu jari membasuh bagian luar telinga. (Abu Dawud). *membasuh telinga hendaknya dengan air yang baru, nukan dengan air yang setelah membasuh kepala. (Imam Nawawi).
  • Cara mencuci kaki: renggangkan jari-jari kaki dan diselAhmadsela dengan jari-jari tangan dari kelingking kanan ke kiri. (Abu Dawud). * lebih utama jika mencucinya hoingga betis. (Abu Hurairoh).
  • Hendaknya berwudhu dengan tertib, berurutan, dan sempurna. Jangan tertinggal walaupun setitik bagian wudhu. Kebanyakan adzab kubur disebabkan wudhu yang tidak sempurna. Termasuk hati-hati dan memperhatikan bagian di bawah kuku dan cincin agar tidak tertinggal wudhu. (Bukhari, Muslim).
  • Sunnah membasuh bagian wudhu tiga kali. Jangan lebih dari tiga kali. Barangsiapa menambahnya, berarti telahmenzhalimi diri sendiri. (Nasa’i, Ibnu Majah, Abu Dawud). *boleh membasuh kurang dari tiga kali, jika memang ada udzur, seperti: waktu sempit, air sedikit, dsb.. (Imam Nawawi).
  • Disunnahkan mendahulukan anggota sebelah kanan ketika berwudhu. (Bukhari, Muslim, Nasa’i).
  • Sunnah shalat dua rakaat sunat Syukrul Wudhu setiap selesai wudhu dan dilakukan tanpa diselingi pembicaraan. (Bukhari, Muslim, Nasa’i). *antara syukrul wudhu dan sholat wajib sebaiknya memperbanyak istighfar. (Ahmad).
  • Doa memulai wudhu: 

AllahummAhmadghfirlii dzanbii wawassi’ lii fiii daarii wa baarik lii fi rizqii.

Ya Allah, ampunilah segala dosaku, lapangkanlah rumah tanggaku, dan berkatilah rezeki untukku. (Dailami, Ibnu Asakir).

  • Disunnahkan melihat langit, lalu membaca doa selesai wudhu:

Asyhadu an laa ilaaha illaallahu wahdahulaa syariikalahu waasyhadu anna muhammadar-rasulullah. AllahummAhmadj’alnii minaThabranitawwaabiin waj’alnii minal-mutathohhiriin.

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allahdan aku bersaksi  bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Ya Allah, jadikanlah diriku dari golongan orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah diriku dari golangan orang yang bersuci. (Muslim). *Barangsiapa membaca doa di atas setelah wudhu, niscaya akan dibukakan baginya delapan pintu surga yang darimana saja ia dapat memasukinya. (Thabrani, Nasa’i).

  • Jangan berwudhu di tempat orang buang air. Khawatir ada air najis yang tersisa, sehinga mengenai badan kita ketika berwudhu. (Thabrani, Dailami). *bila terpaksa, siramlah dulu sampai bersih ssebelum berwudhu.
  • Sunnah menjaga kelansungan wudhu dan menggantinya setiap batal. (Hakim). *Menjaga wudhu berarti menjaga kelangsungan kelapangan rezeki. Allah  berfirman, “Hai Musa, jika engkau mengalami musibah sedang engkau tidak dalam keadaan wudhu, maka jangan menyalahkan kecuali dirimu.” (Hadits Qudsi).
  • Dianjurkan melamakan ghurah dan tahjil. (Muslim, Bukhari). *Ghurrah  adalah membasuh sebagian kepal depan. Tahjil adalah membasu sebelah atas siku, ketika membasu kedua tangan, dan sebelah atas mata kaki ketika membasuh kedua kaki. “Sesungguhnya umat ini akan diseur pada hari kiamat dalamkeadaan cemerlang kening, kedua tangan, dan kedua kaki mereka, karena bekas wudhu. (Bukhari, Muslim).
  • Diwjibkan berwudhu ketika: akan sholat, membaca Alquran, sa’i, wuquf, jumrah, baligh, setelah tertawa keras dalam sholat.
  • Disunnahkan berwudhu ketika akan: tidur, menengok orang sakit, setelah makan sesuatu yang dimasak, setelah makan daging kambing dan unta, setelah menyentuh kemaluan, ketika marah, keluar dari WC, akan adzan, akan menziarahi makam Nabi saw., mempelajari hadits atau tafsir, setelah berghibah ataua berbohong.
  • Jangan berbicara ketika berwudhu, (Nasa’i).
  • Jangan boros. Nabi saw. Bersabda, “Hematlah dalam memakai air walaupun di atas lautan. (Ahmad, Ibnu Majah)
  • Air bekas wudhu da[at dipkai nsebagai obat. (Bukhari). *caranya: kita vberwudhu di atas ember, sehingga air bekas wudhu itu akan jatuh ke dalam ember, kemudian diminumkan kepada si sakit.

 
 
 
Hal-hal yang Membatalkan Wudhu

  • Ada sesuta yang keluar dari dua jalan, seperti kencing, tahi, darah, atau angin. (An-nisa: 443, Bukhari, Muslim). * Allah tidak menerima shalat seseorang apabila berhadats, sebelum berwudhu.
  • Tidur tidak mantap. Maksud mantap ialah tidur sambil duduk, dan pantat menempel rapat di tempat duduk. Dan tidak mantap, yaitu pantat renggang dari tempat dudk. Nabi saw. Bersabda, “Barangsiapa tidur, maka hendaklah berwudhu.” (Abu Dawud). * tidur dengan sikap mantap, tidak membatalkan wudhunya. (Bukhari, Muslim).
  • Hilang akal
  • Bersentuhan antara laki-laki dengan istrinya atau wanita asing, tanpa ada penghalang. (ANasa’iNisa’: 43).
  • Menyentuh kemaluan tanpa penghalang.